Selasa, 04 Februari 2014

Siapakah Penyumbang Oksigen Terbesar Untuk Bumi Kita

0 komentar
Kalau jawaban kalian adalah pohon, ups maaf masih salah. Pohon adalah salah satu penyumbang oksigen, akan tetapi hanya sebesar 20% untuk bumi. Pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbondioksida yang ada di bumi.

Jadi untuk mengurangi dampak pemanasan global, tanamlah pohon agar CO2 nya dapat dimanfaatkan oleh pohon. Karena nilai wajar dari CO2 adalah 0,1% di bumi ini, tetapi tahun 2010 ini kadar CO2 di atmosfer bumi sudah mencapai 0,3%.



Jadi jawaban yang benar adalah Plankton, khususnya adalah Fitoplankton. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.

Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.


Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup.

Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.

Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus.

Plankton adalah organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini.  Dengan kemampuannya berespisari mengtinjauankan gelembung-gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang.

Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.


Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu.

Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.

Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.

Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.

Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan mengtinjauankan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.


Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.

Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.

Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.

Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.

Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.

Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.

Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida.

Jadi bersyukurlah karena mereka kita masih bisa menghirup udara dengan bebas untuk kelangausngan hidup. Lalu yang terpenting dan terutama, bersyukurlah karena Tuhan mu telah menciptakan mereka.
Read more ►

Selasa, 26 November 2013

Temuan Baru Banyak Planet Seukuran Bumi Bisa Dihuni

0 komentar
Ilustrasi lima planet dalam sistem Kepler-62
Ilustrasi lima planet dalam sistem Kepler-62 dengan
dua zona yang bisa dihuni, yaitu area dalam jarak dengan
bintang yang memberikan cahaya dan kehangatan sehingga
secara teori air bisa muncul ke permukaan. (sumber: Discovery News)
- Misteri tentang adanya kehidupan amat jauh dari bumi mulai mendapat titik terang yang melampaui harapan paling gila para astronom Senin (4/11) kemarin.

Berdasarkan analisis terbaru dari pesawat luar angkasa Kepler milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), para astronom memperkirakan terdapat hingga sekitar 40 miliar planet seukuran bumi yang bisa dihuni.

Satu dari setiap lima bintang mirip matahari memiliki sebuah planet seukuran bumi yang berotasi di zona bernama Goldilocks -- tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin -- di mana temperatur permukaan cocok untuk hadirnya air, menurut kalkulasi yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir oleh Erik Petigura, mahasiswa di University of California, Berkeley.

Analisis Petigura merupakan langkah maju yang luar biasa dalam misi yang diemban Kepler, yaitu mengukur faksi mana dari bintang-bintang mirip matahari yang memiliki planet seukuran bumi.

Pedoman ini, yang sering disebut sebagai eta-Earth, merupakan satu faktor penting dalam Persamaan Drake yang digunakan untuk memperkirakan jumlah hadirnya peradaban lain.

Karya tulis Petigura diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science.

“Terlihat bahwa alam semesta ini menghasilkan banyak sekali real estate untuk kehidupan yang entah kenapa memiliki kemiripan dengan kehidupan di bumi,” kata Petigura.

Dalam dua dekade terakhir, para astronom telah mendata lebih dari 1.000 planet yang mengelilingi bintang-bintang lain, yang disebut sebagai exoplanets. Kepler, dalam empat tahun umurnya sebelum rusak dan keluar jalur karena masalah mekanik musim dingin yang lalu, telah mengumpulkan tambahan sekitar 3.500 kandidat.

Temuan baru ini bisa mengarahkan rencana dalam beberapa tahun ke depan untuk menemukan kembaran bumi yang cukup dekat dari sini untuk bisa dipelajari.

Jarak terdekat planet seperti ini mungkin “hanya” 12 tahun cahaya jauhnya.

“Bintang yang demikian bisa dilihat dengan mata telanjang,” kata Petigura.

Temuannya juga didasarkan pada laporan sebelumnya yang ditulis oleh David Charbonneau dan Courtney Dressing dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, yang menemukan sekitar 15% bintang yang lebih kecil dan bintang-bintang yang disebut “bintang kerdil merah” memiliki planet-planet seukuran bumi.

Ilmuwan lain, Ravi Kopparapu dari Pennsylvania State University, menggunakan pendekatan yang tidak terlalu konservatif dan menemukan bahwa setengah dari semua bintang kerdil merah memiliki planet-planet seukuran bumi.

Geoffrey Marcy dari University of California, Berkeley, yang mengawasi riset Petigura, mengatakan: “Ini karya paling penting di mana saya pernah terlibat. Akhirnya. Adakah bumi lain yang bisa dihuni di luar sana? Saya merasa agak tergelitik.”

Menurut kalkulasi Petigura, faksi bintang-bintang dengan planet seperti bumi mencapai 22%, plus-minus 8%, tergantung pada bagaimana mendefinisi zona yang bisa dihuni.

Namun ada juga pertanyaan penting. Meskipun planet-planet ini seukuran bumi, tak ada yang tahu berapa masanya, apakah berbatu seperti bumi, atau hanya merupakan bola es atau gas. Jangankan berpikir apakah ada mahluk yang pernah, sedang atau akan bisa hidup di sana.

Namun ada alasan untuk percaya bahwa beberapa planet seukuran bumi, atau mungkin bahkan semuanya, berisi bebatuan. Pekan lalu dua kelompok astronom mengumumkan bahwa planet mirip bumi yang disebut Kepler 78b dan mengelilingi mataharinya dalam tempo hanya 8,5 jam memiliki kepadatan seperti bumi, meskipun terlalu panas untuk bisa mendukung kehidupan.

“Alam tahu bagaimana caranya membuat planet-planet bebatuan yang seukuran bumi,” kata Petigura.

Namun jumlahnya juga masih tak pasti karena Kepler rusak sebelum menuntaskan surveinya. Petigura dan rekan-rekannya kemudian harus menyeleksi planet yang sedikit lebih kecil atau lebih besar dari bumi dengan orbit yang lebih pendek. Demi tujuan analisis dia, “seukuran bumi” didefinisikan dalam rentang satu sampai dua kali ukuran bumi, dan masa orbit antara 200 dan 400 hari.

Petigura dan rekan-rekannya membatasi diri pada 42.000 bintang yang lebih terang dan “berperilaku baik.” Mereka menemukan 603 planet, 10 di antaranya memiliki diameter sama atau dua kali bumi, dan mengelilingi zona yang bisa dihuni atau habitable zone, dengan cahaya seperempat sampai empat kali lipat yang ada di bumi. Dalam sistem tata surya, zona itu terdapat di antara orbit Venus sampai sedikit di luar orbit Mars.
Read more ►
 

Copyright © Raja blog Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger